Panggung Mamuju Festival 2025 Ambruk Diterjang Angin Kencang: Dampak Luas bagi UMKM dan Warga

Mediaex Mamuju – Suasana meriah di Mamuju Festival 2025 mendadak berubah menjadi mencekam pada Rabu (29/10/2025) siang. Panggung utama yang menjadi pusat hiburan dan atraksi budaya di Anjungan Pantai Manakarra, Kelurahan Binanga, Kecamatan Mamuju, roboh diterjang angin kencang disertai hujan deras. Tidak hanya panggung, tenda-tenda yang menampung para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut ambruk, menimbulkan kerugian materiil sekaligus kepanikan bagi pengunjung dan pedagang.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 12.50 Wita, saat angin kencang mulai melanda kawasan pantai, menggoyang tenda-tenda ringan yang digunakan oleh puluhan pedagang UMKM untuk memamerkan dan menjual produk lokal, mulai dari kuliner khas Sulbar hingga kerajinan tangan dan produk kreatif berbasis budaya lokal.
Seorang saksi, Wahyu, warga yang berada di sekitar lokasi, menjelaskan:
“Iya, roboh tiang panggungnya, sama tenda-tenda penjual juga ikut jatuh. Banyak orang panik dan berlarian menyelamatkan barang dagangannya,” katanya saat dihubungi detikcom, Rabu (29/10/2025).
Kerugian dan Dampak bagi UMKM
Panggung yang ambruk ini menjadi pusat perhatian masyarakat karena selain sebagai tempat pertunjukan, juga menjadi ruang promosi bagi UMKM lokal. Beberapa pedagang mengaku kerugian mencapai jutaan rupiah, terutama karena banyak produk yang rusak terkena hujan atau terinjak saat evakuasi.
Menurut laporan sementara, setidaknya 25 tenda pedagang mengalami kerusakan berat, sedangkan panggung utama ambruk sebagian, meski struktur utama panggung tidak sepenuhnya runtuh. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa dari insiden ini, meskipun beberapa pengunjung dan pedagang mengalami luka ringan akibat tertimpa tenda atau peralatan panggung.
Penyebab dan Kondisi Cuaca
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Mamuju menyebut bahwa fenomena ini terjadi akibat angin kencang lokal yang mengikuti hujan deras yang melanda wilayah pesisir Mamuju pada siang hari. Kombinasi hujan deras dan angin kencang sering muncul pada musim peralihan di Sulawesi Barat, terutama di wilayah pesisir yang terbuka seperti Pantai Manakarra.
BMKG memperingatkan agar masyarakat, terutama pedagang dan warga yang tinggal di dekat pantai atau bangunan ringan, selalu waspada terhadap potensi angin kencang, hujan deras, dan gelombang tinggi selama periode cuaca ekstrem.
Tanggapan Penyelenggara Festival
Pihak panitia Mamuju Festival 2025 segera mengambil langkah cepat untuk menenangkan pengunjung dan mengamankan area terdampak. Seluruh tenda yang roboh dievakuasi, sementara panggung sementara diperiksa untuk memastikan tidak ada risiko lanjutan bagi penonton dan pedagang.
Ketua panitia festival menyatakan:
“Kami menyesalkan insiden ini, tetapi keselamatan pengunjung dan pedagang menjadi prioritas utama. Saat ini, tim kami bersama BPBD dan aparat setempat tengah menata ulang lokasi dan melakukan koordinasi untuk melanjutkan acara dengan aman.”
Festival sebagai Ruang Ekonomi dan Budaya Lokal
Mamuju Festival 2025 sendiri merupakan event tahunan yang bertujuan meningkatkan pariwisata, budaya, dan ekonomi lokal. Festival ini menampilkan pertunjukan seni tradisional, musik, kuliner khas, serta UMKM lokal yang memamerkan produk kreatif dan kuliner.
Panggung utama yang roboh adalah simbol pusat kegiatan festival, sehingga insiden ini menjadi perhatian banyak pihak. Bagi UMKM, festival ini menjadi kesempatan strategis untuk menjual produk, membangun jaringan, dan mendapatkan pengakuan dari pasar yang lebih luas.
Respon Warga dan UMKM
Para pedagang UMKM mengaku meski rugi, mereka tetap bersemangat untuk melanjutkan kegiatan. Seorang pedagang kuliner, Siti Rahma, mengatakan:
“Ini kejadian tidak terduga. Barang sebagian rusak, tapi kami tetap ingin menunjukkan produk terbaik kami. Festival ini penting untuk mempromosikan kuliner dan kerajinan lokal.”
Sementara warga yang menonton pertunjukan menilai bahwa kesigapan panitia dan aparat dalam menanggulangi situasi darurat sangat membantu mengurangi risiko cedera lebih serius.
Langkah Mitigasi Ke Depan
Dampak insiden ini menjadi pelajaran bagi panitia dan pemerintah daerah untuk memperkuat manajemen risiko acara publik, termasuk:
-
Memastikan struktur panggung lebih kokoh dan tahan terhadap angin kencang.
-
Menyediakan sistem peringatan dini bagi pedagang dan pengunjung.
-
Menata ulang lokasi festival untuk meminimalkan risiko tenda roboh.
-
Menyediakan fasilitas darurat bagi UMKM yang mengalami kerusakan produk.
BMKG juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan panitia event untuk memprediksi potensi cuaca ekstrem, terutama di daerah pesisir seperti Mamuju.
